Kisah Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy r.a dalam Bersedekah


Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‘Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling panjang tangannya’, Aisyah berkata, ‘Lalu kami saling mengukur tangan kami agar mengetahui siapa yang paling panjang tangannya,’ dia melanjutkan, ‘Dan ternyata istri beliau yang paling panjang tangannya adalah Zainab karena dia bekerja dengan tangannya sendiri dan selalu bersedekah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafazh tersebut dari Muslim)

Dan dalam suatu riwayat yang lain Aisyah berkata, “Lalu kami bila berkumpul pada suatu rumah dari salah seorang di antara kami setelah kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami selalu mengukur tangan-tangan kami di tembok untuk mencari tangan yang terpanjang, dan kita masih saja selalu berbuat hal itu hingga meninggalnya Zainab binti Jahsy, dan ternyata dia adalah wanita yang mempunyai tangan pendek dan bukan yang terpanjang di antara kita, akhirnya kami mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud dengan panjangnya tangan adalah suka bersedekah, dan Zainab adalah seorang wanita pekerja dengan tangannya. Dia menyamak kulit, menyulam, dan bersedekah di jalan Allah.

Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.

Dan pada suatu riwayat disebutkan bahwa Zainab radhiallahu ‘anha merajut pakaian, lalu memberikannya kepada pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menjahit dan memanfaatkannya pada peperangan mereka. ( Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath)


Sumber: Buku “Keajaiban Sedekah dan Istighfar”, Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, Pustaka Darul Haq

 

Keutamaan Memelihara Anak Yatim

Sekali-kali Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amal saleh hamba-hamba-Nya. Setiap suatu amal, Allah SWT sendiri yang menjelaskan nilainya, atau melalui lisan kekasih-Nya. Demikian pula memelihara anak yatim, ia adalah amal saleh yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, ia memiliki sejumlah keutamaan dan pahala yang besar. 

Keutamaan yang dimaksud antara lain seperti disabdakan Rasulullah SAW:
أنا وكا فل الليتليم في الجنة هكذا
“Saya dan pemelihara anak yatim akan bersama di surga seperti ini….” (HR Bukhari)
Sambil beliau memberikan isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya.

Isyarat ini mengindikasikan kepastian dan kedekatan beliau dengan pemelihara anak yatim di Jannah kelak. Keterangan ini tentu amat menggiurkan bagi orang mukmin yang mencintai kehidupan akhirat, melebihi kehidupan alam ini. Sebab tidak ada lagi balasan tertinggi dari suatu amal, selain surga.

Keutamaan lain didapat dari sebuah hadits, ketika Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik rumah ialah yang ada anak yatim di dalamnya” (HR Ibnu Majah)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa menafkahi tiga anak yatim, samalah ia dengan mengerjakan ibadah sepanjang malam" (HR Ibnu Majah).

Pada kesempatan lainnya, beliau SAW juga bersabda,
“Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah melimpahkan kebaikan pada setiap lembar rambutnya.” (HR Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban).



Disarikan dari buku "Keajaiban Mengasuh Anak Yatim" buah karya Ust. Irfan Supandi, M.Ag & Ummu Harits

 

Hak-hak Anak Yatim


Agar anak yatim tumbuh normal sebagaimana layaknya anak-anak pada umumnya, hak-hak mereka harus ditunaikan, sejak mulai keyatimannya. Jika ia yatim semenjak masih dalam kandungan ibunya, maka persiapan untuk memeliharanya akan lebih baik bila dilakukan sejak dini. Adapun hak-hak yang patut mereka peroleh antara lain sebagai berikut:

Mendapatkan Kasih Sayang dan Perlakuan yang Baik

Salah satu cara untuk berbuat baik kepada anak yatim adalah dengan memberikan kasih sayang dan memperlakukan mereka dengan baik.  Bahkan, menurut ayat al-Qur’an surat al-Baqarah : 83, perintah tersebut juga disampaikan kepada Bani Israil, umat sebelum kita. Dengan demikian, syariat untuk menyantuni anak yatim bukanlah syariat baru.
  •  Memberi Hadiah

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata, “Ya Rasulullah, saya punya dua budak wanita, maka kepada yang mana saya member hadiah?” Rasulullah menjawab, “Kepada yang pintunya lebih dekat denganmu”.

Rasulullah SAW telah terbiasa menunjukkan adanya kasih sayang antar sesame manusia, kemudian beliau member nasihat kepada umatnya dengan bersabda:

تها د و ا تحا بو ا
“Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai” (HR Bukhari)

تها د و ا فإ ن الهد ية تذ هب و حر الصد ر
“Berilah hadiah, karena hadiah bisa menghilangkan kedongkolan hati” (HR TIrmidzi)
  •  Pendampingan

Rasulullah SAW selalu mendampingi anak-anak kecil dalam mengajarkan segala bidang. Kadang, beliau menemani Ibnu Abbas dan berjalan bersama di jalan. Terkadang mengajak Hasan atau Husain saat berangkat shalat. Di waktu lain, beliau mengajak Usamah bin Zaid untuk mengunjungi orang sakit.

Berangkat dari cara Nabi SAW inilah, para shahabat suka menemani anak-anak mereka, selama hal itu mudah dilakukan. Umar bin Khattab ra mengajak anaknya ke Majelis Rasulullah SAW. Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadits dari Ibnu Umar ra, dia berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda,

“Beritahukan kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya adalah laksana orang Muslim, memberikan berbagai makanan setiap waktu dengan izin Rabbnya dan daunnya tidak pernah rapuh”

Sebenarnya waktu itu – kata Ibnu Umar – telah muncul di hatiku “Pohon Kurma”, tapi aku tidak mau mengatakannya, karena di sana ada Abu Bakar dan Umar ra. Ketika mereka berdua tidak menjawab, Nabi bersabda, “Yaitu pohon kurma”.

Ketika aku dengan ayahku sudah keluar, aku berkata, “Wahai Ayah, sebenarnya di hatiku telah muncul jawaban “Pohon Kurma”. Ayahnya bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya? Seandainya kamu katakan, maka aku lebih suka daripada ini dan itu”. Ibnu Umar menjawab: “Tidak ada yang menghalangiku, kecuali karena aku tidak melihat engkau dan Abu Bakar mengatakannya, sehingga aku sungkan. Dalam riwayat lain “Saya orang yang paling kecil, sehingga saya diam”.
  •  Pujian dan Sanjungan

Pujian memiliki dampak yang efektif bagi jiwa, bisa menggerakkan spirit dan emosi, serta mendorong untuk segera memperbaiki prilaku dan perbuatan.

Imam Bukhari mengeluarkan hadits dari Abdullah bin Umar, dia berkata: “Di masa Nabi, ada seorang laki-laki yang selalu menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW. Maka aku berharap dapat bermimpi dan aku ceritakan kepada Rasulullah SAW. Saat itu, aku masih remaja dan senang tidur di masjid. Suatu malam aku bermimpi seolah-olah dua malaikat mengambilku dan membawaku pergi menuju ke neraka. Tiba-tiba neraka terlipat laksana sebuah sumur dan memiliki dua tanduk dan tiba-tiba, di dalamnya ada banyak orang yang pernah aku kenal. Maka aku berkata, Aku berlindung kepada Allah dari neraka. Kemudian malaikat yang lain menemuiku dan berkata kepadaku: Seberapa jauh kamu menjaga diri (dari yang haram)?” Lalu aku ceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, “Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, kalau ia melakukan shalat malam”. Maka setelah itu, Ibnu Umar tidak lagi tidur malam, kecuali sedikit sekali.

Makanan, Minuman dan Pakaian

"Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat" (QS. Al-Balad: 12-15)

Terjaga Harta Bendanya

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya" (QS. Al-Isra:34)




Disarikan dari buku "Keajaiban Mengasuh Anak Yatim" buah karya Ust. Irfan Supandi, M.Ag dan Ummu Harist









 

Kisah Ummul Mukminin Aisyah r.a dalam Bersedekah

Pagi masih menaungi kota Madinah dengan cahaya mentari penuh kelembutan dan kedamaian. Panasnya hawa padang pasir belum begitu menyengat tubuh. Jalan jalan mulai dilalui oleh orang orang yang hendak menuju kepasar. Ada juga yang telah bersiap pergi ke kebun dan ladang, pohon kurma dan aneka buah buahan telah menanti siap dipetik untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan keluarga. Sebagiannya mereka jual di pasar untuk membeli kebutuhan hidup lainnya.

Nampak sosok lelaki tengah berjalan di sebuah gang menuju arah masjid. Jalannya agak dipercepat mungkin karena ada keperluan yang terasa penting. Tiba di ujung gang ia berbelok ke arah kanan dan kemudian melanjutkan langkah kakinya hingga berhenti di depan sebuah rumah disebelah Masjid An Nabawi. Lelaki itu bernama Munkadir yaitu seorang tabi’in dan ia kini ada didepan rumah Ummul Mukminin Aisyah r.a untuk meminta bantuan kepada Aisyah soal keuangan. Setelah mengucap salam maka terdengar balasan salam dari dalam rumah, rupanya Aisyah r.a sedang ada dirumahnya. setelah keluar rumah Aisyah bertanya “Wahai Munkadir, ada keperluan apa engkau kamari?”. Kemudian Munkadir menjawab “Aku belum menikah dan ingin membeli seorang budak untuk kunikahi. apakah engkau bisa membantuku untuk meringankan masalah keuanganku ini?”. Kebetulan pada hari itu Ummul Mukminin tidak memiliki uang sepeser pun. Aisyah r.a berkata “Maaf, pada saat ini saya tidak mempunyai apa apa. Seandainya saya mempunyai sepuluh ribu dirham, semuanya tentu akan saya berikan kepadamu. Akan tetapi sekarang ini saya tidak mempunyai apa apa.”

Munkadir sedikit berkecil hati karena tidak memperoleh apa apa. Maka ia melangkah pulang menuju rumahnya. Tak berapa lama kemudian datang seseorang bernama Khalid bin Asad r.a membawa sekantung uang berjumlah sepuluh ribu dirham dan memberikannya kepada Aisyah r.a. Sejenak Aisyah r.a termenung memikiran peristiwa sebelumnya yang terjadi lalu ia berkata “Saya sedang diuji dengan ucapan saya kepada Munkadir.” Kemudian ia segera mengirimkan seluruh uang yang di terimanya itu kepada Munkadir . 

Dengan uang sepuluh ribu dirham pemberian Aisyah r.a itu, Munkadir  membeli seorang hamba sahaya perempuan yang kemudian dinikahinya. Pernikahan mereka berlangsung dalam suasana penuh kebahagian dan saling mencintai. Dari pernkahan itu ia mendapatkan 3 orang anak yakni Muhammad, Abu Bakar, dan Umar. Sejak masih muda ketiga orang itu terkenal kesolehannya di kota Madinah Munawaroh.

Sumber: www.kisahislami.com
 

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim


Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya .

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

1.    Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
2.    Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.
3.    Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa.
4.    Keutamaan dalam hadits ini belaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu.
5.    Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan mengasuh anak yatim, yang ini sering terjadi dalam kasus “anak angkat”, karena ketidakpahaman sebagian dari kaum muslimin terhadap hukum-hukum dalam syariat Islam, di antaranya:

1.    Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ}
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (QS al-Ahzaab: 5).

2.    Anak angkat/anak asuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua yang mengasuhnya, berbeda dengan kebiasaan di zaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia.

3.    Anak angkat/anak asuh bukanlah mahram , sehingga wajib bagi orang tua yang mengasuhnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah.
 وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
 Artikel
 Muslim.Or.Id
 

Keutamaan Sedekah


Suatu saat ada seseorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), “Siramilah kebun si fulan!” Maka, awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan), lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka, ia menelusuri (mengikuti) air itu.

Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?” Dia menjawab, “Fulan”. Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, “Mengapa anda menenyakan namaku?” Dia menjawab, “Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan “Siramilah kebun si fulan!” Yaitu nama anda.

Maka, apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?” Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini, maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas adalah salah satu contoh kisah nyata dari salah satu keutamaan bersedekah, yaitu Allah SWT tidak akan mengurangi rezeki yang kita sedekahkan, dan bahkan Allah SWT akan mengganti dan melipat gandakannya.

Sedekah tidak mengurangi Rezeki

Allah SWT berfirman dalam surat Saba bahwa Allah SWT akan mengganti sedekah yang kita keluarkan:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba 34:39)

Secara logika, mungkin kita akan berfikir bahwa harta yang kita keluarkan untuk sedekah berarti pengurangan harta yang ada di tangan kita. Tetapi, apa kenyataannya Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:
“Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan.” (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa’ad al-Anmari r.a.)

Sedekah membuka pintu rezeki

Rasulullah SAW pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)
Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wataala berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah r.a., Nabi SAW pernah bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

Ada satu kisah pada zaman Nabi SAW yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi SAW, orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi SAW mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali “Bukakanlah pintu rezeki” atau “Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang.”

Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi SAW adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ketidakpelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut.

Doa tersebut adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang.”

Sedekah melipat gandakan rezeki

Bukan saja sedekah membuka pintu rezeki seseorang, tetapi bahkan bersedekah juga melipat-gandakan rezeki yang ada pada kita.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka, sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung, yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

Janji Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan melipat-gandakan sedekah kita menjadi 700x lipat:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah 2:261)

Sedekah Menjaga Warisan

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (H.R. Ahmad)

Di dalam Surat Al-Kahfi ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa AS dengan Khidir. Di dalam kisah tersebut Khidir memperbaiki diding rumah dari dua anak yatim, dan menjelaskan bahwa di bawah dinding tersebut ada harta warisan dari orang tua mereka yang soleh. Khidir memperbaiki dinding tersebut agar harta warisan tersebut tetap pada tempatnya sampai sang anak menjadi dewasa. Demikianlah salah satu contoh bagaimana Allah SWT melindungi warisan seseorang.

Sedekah adalah Naungan kita di hari kiamat

Rasulullah SAW bersabda “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW pernah bersabda tentang tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah SWT pada hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Salah satu orang yang diberi naungan pada hari itu adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanan, tetapi tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sedekah Menjauhkan diri kita dari api neraka

Rasulullah SAW bersabda: “Jauhkan dirimu dari api neraka, walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (Mutafaqalaih)

Allah SWT juga berfirman bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang akan masuk surga adalah orang yang bersedekah di waktu lapang maupun sempit.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran 3:133-134).

Sedekah Mengurangi kesakitan kita di sakaratul maut

Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut).”

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Sedekah Mengobati orang sakit

Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

Sedekah untuk janda dan orang miskin diibaratkan seperti orang yang berpuasa terus menerus.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (H.R. Bukhari)

Bukan Masalah Besarnya Sedekah.....

Bersedekah sepuluh ribu rupiah bisa jadi lebih baik dari pada bersedekah seratus ribu rupiah. Jika seseorang hanya memiliki dua puluh ribu rupiah, kemudian disedekahkannya sepuluh ribu rupiah, maka sedekah tersebut adalah lebih baik dari pada sedekah dari seseorang jutawan, tetapi hanya mensedekahkan seratus ribu rupiah.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi SAW menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (H.R. An-Nasaa’i)


Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat, tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga ruhmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (H.R. Bukhari)

Sumber : www.syaamilquran.com


 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Peduli 1000 Yatim - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger