Tahapan Mendidik Anak

TAHAPAN MENDIDIK ANAK TELADAN RASULULLAH SAW
 (Bagian I)

Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul Ihya ‘Ulumuddin telah menyebutkan “Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orangtuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi bik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa”.

Dalam Sulbi Hingga Tiga Tahun

Doa untuk anak agar beroleh hidayah sejak di sulbi ayahnya

Nabi Muhammad SAW memberikan bimbingan kepada Kaum Muslim agar melakukan hal-hal yang menghasilkan kemaslahatan bagi anak-anak mereka pada masa mendatang. Untuk itu, beliau SAW bersabda:

“Manakala seseorang di antara kalian sebelum menggauli istrinya terlebih dahulu mengucapkan: ‘Bismillahi, Allohumma janibnaasy syaithoona wa jannibi syaithoona maa rozaqtanaa’ (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, hindarkanlah kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami dari gangguan setan), kemudian dilahirkanlah dari keduanya seorang anak, niscaya selamanya setan tidak akan dapat mengganggunya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dzikir untuk keselamatan bayi yang akan dilahirkan

Ibnu Taimiyah dalam bukunya yang berjudul Al-Kalimuth Thayyib menyebutkan bahwa ketika Fathimah r.a., putri Rasululllah SAW telah dekat masa kelahiran anaknya, Rasulullah SAW memerintahkan kepada Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsy agar keduanya datang menemui Fathimah r.a. untuk membacakan di dekatnya ayat Kursi dan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam (berkuasa) di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah, Mahasuci Allah, Rabb semesta alam” (Q.S. Al-A’raf [7]:54).

Sesudah itu keduanya membacakan pula surat Al-Falaq dan surat An-Naas yang dikenal dengan sebutan Al-Mu’awwidzatain kepadanya.


Anjuran menyerukan adzan pada telinga kanannya

Diriwayatkan oleh Abu Rafi’ yang telah menceritakan:

“Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan di telinga Al-Hasan ibnu ‘Ali saat baru dilahirkan oleh ibunya, Fathimah” (HR. Abu Daud)

Mentahnik bayi dan mendo’akannya

Dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Asma r.a. datang dengan membawa baynya yang baru lahir. Asma r.a melanjutkan kisahnya: “Rasulullah SAW mentahniknya dengan buah kurma, kemudian mendo’akan kerberkahan buat bayinya”. Dalam hadits ini terkandung keterangan yang menganjurkan untuk membawa bayi yang baru lahir kepada orang-orang shalih agar memperoleh berkah dari do’a mereka.

Tahnik ialah mengunyah sesuatu, kemudian memasukkannya ke dalam mulut bayi sembari mengurut langit-langitnya dengan lembut agar bayi terlatih untuk mengonsumsi makanannya  sehingga nanti akan tumbuh menjadi kuat.

Memperlakukan bayi dengan kasih sayang meski sebagai anak hasil perbuatan zina

Di antara bukti yang menunjukkan belas kasihan Rasulullah SAW kepada bayi dan keinginannya yang sangat agar bayi tumbuh menjadi besar dari air susu ibu. Ketika datang kepada Rasulullah SAW seorang wanita dari Bani Ghamidiyah yang mengemukakan pengakuannya di hadapan beliau bahwa dirinya telah mengandung dari hasil perbuatan zina, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Pulanglah kamu sampai kamu melahirkan!” Setelah bersalin ia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata: “Wahai Rasulullah, bayi ini telah saya lahirkan”. Akan tetapi, Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Pulanglah kamu; susuilah dia sampai kamu menyapihnya”. Setelah wanita itu menyapihnya, ia datang dengan membawa bayinya yang saat itu dalam keadaan memegang sepotong roti di tangannya, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, bayi ini telah saya sapih dan kini dia telah dapat memakan makanan”. Rasulullah SAW pun memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan mereka pun segera merajamnya. (HR Muslim)

Merayakan kelahiran bayi dengan aqiqah

Diriwayatkan dari Samurah Ibnu Jundub r.a. dari Rasulullah SAW yang telah bersabda:

“Setiap bayi digadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, lalu dicukur dan diberi nama”. (HR. Nasa’i)

Ummu Kurz r.a. telah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang aqiqah, maka beliau SAW menjawab:

“Untuk bayi laki-laki dua ekor kambing (yang sama besarnya); untuk bayi perempuan seekor kambing, baik kambing jantan maupun kambing betina, semua boleh, tidak menyulitkan kalian”. (HR. Tirmidzi)



Memberi nama yang baik

Rasulullah SAW mengatakan dalam sabdanya:

“Nama yang paling disukai oleh Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdur Rahman dan nama yang paling baik adalah Harits dan Hammam, sedang nama yang paling buruk adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit),” (HR. Abu Daud)



Resumed from “Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah SAW” by Jamaal ‘Abdur Rahman

Posted by. H. Qonita Abidatullah
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Peduli 1000 Yatim - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger